Man Jadda Wajadda

Jumat, 10 Februari 2012

Kelas mengaji kembali lagi. Kali ini aku ingin memberikan murid-muridku suatu permainan yang sederhana namun bermakna. Selepas membaca Iqra, aku mengumpulkan mereka di pekarangan. Aku telah menyiapkan botol bekas dan spidol yang sudah diikat dengan seutas benang di kedua sisinya, masing-masing dua buah. Murid-muridku bertanya heran “ Kita mau main apa, Bu ? “ Kubiarkan dulu rasa penasaran mereka sambil tersenyum penuh arti.

Aku membagi kelompok yang masing-masing beranggotakan tiga orang. Nama permainan ini adalah memasukkan spidol dalam botol. Dua orang dalam kelompok ditutup matanya sambil memegang benang yang diikatkan pada spidol, sementara satu orang yang berfungsi sebagai ketua harus memberikan arah pada anggotanya untuk bisa memasukkan spidol ke dalam botol.

Serta merta pekarangan tempat kami bermain didatangi tetangga yang juga ingin melihat. Dua kelompok pertama pun memulai pertandingan ini, suasanya menjadi ramai, penuh dengan bahasa Mandar yang mungkin artinya memberikan semangat dan instruksi. Setelah muncul pemenangnya dari kelompok giliran pertama, lalu dilanjutkan dengan kelompok giliran kedua. Suasananya tak kalah ramai, bahkan sampai ada yang teriak-teriak seketika ada yang bisa duluan memasukkan spidol ke dalam botol. Ternyata, muncul sedikit keributan setelah itu. Salah satu kelompok dianggap curang karena memasukkan spidol langsung dengan tangan. Sayangnya, karena suasana begitu ricuh, aku tidak begitu melihatnya.

Anak-anak tetaplah anak-anak. Setelah itu ada yang cemberut dan marah karena lawan mainnya dinilai berbuat curang. Muka mereka ditekuk dan tidak mau bicara. Aku segera menggiring mereka kembali masuk ke tempat mengaji.

Aku mengumpulkan mereka dan kami membentuk lingkaran. Aku pun bertanya “ Ada yang mau cerita tadi bermain apa ?”

“ Memasukkan pulpen ke dalam botol “ serempak mereka menjawab.

“ Nah, sekarang ada yang mau cerita bagaimana tadi perasaannya saat bermain ? ”tanyaku lagi.

“ Tidak bagus, Bu, spidolnya susah masuk “keluh Sihab

“ Bagaimana tadi caranya kelompok yang berhasil memasukkan ? “ aku balas bertanya.

“ Dimasukkan saja, pelan-pelan “ kata Fika

“ Nah, sekarang kalian marah tidak kalau ada temannya yang berbuat curang ? “ tanyaku.

“ Maraaah sekaliii, Bu “ mereka berteriak.

“ Nah, makanya kita tidak boleh berbuat curang karena akan merugikan orang lain, contohnya adalah mencontek. Tidak boleh mencontek PR atau ketika ulangan di sekolah “

“ Iyaaaa, Buuu “

“ Selain itu kita harus berusaha untuk mencapai cita-cita. Seperti tadi, kita harus sabar memasukkan spidol dalam botol tapi tetap sungguh-sungguh. Ingat kalimat ini, Man Jadda Wajadda “

“ Apa itu artinya, Bu ? “

“ Siapa yang sungguh-sungguh akan berhasil “

Murid-muridku tertegun sesaat. Mungkin mereka baru mendengar pepatah arab itu dan mencoba mengingatnya kembali.

“ Ayo, sekarang semuanya harus saling memaafkan. Yang tadi merasa curang sama temannya, harus minta maaf. Ibu ingin kalian semua tidak cemberut lagi, harus tersenyum sepulang dari sini ! “

Mereka pun menurutinya dan saling mengulurkan tangan satu sama lain. Pelajaran Man Jadda Wajadda hari itu berakhir, namun aku harap pepatah arab itu terus melekat dalam hati dan pikiran hingga kelak mereka akan benar-benar menjadi orang yang berhasil.

ARTI SEBUAH KETULUSAN

“Hati orang siapa yang tahu, manis di luar belum tentu manis didalam, tulus di luar belum tentu juga tulus di dalam, hati orang siapa yang tahu...”

Kalimat di atas setidaknya akan menjadi pemantik dalam tulisan saya kali ini. Jika kita bicara hati seseorang termasuk di dalamnya niat untuk melakukan kehendak adalah sesuatu yang cukup sulit. Tidak ada indikator jelas yang dapat mengukurnya. Belum tentu apa yang dikatakan dalam lisannya ialah apa yang ia sebenarnya rasakan. Begitu pula sebaliknya apa yang ia rasakan belum tentu juga sesuai dengan apa yang ia lisankan. Menurut saya, tersedia dua pilihan pisau bedah untuk menerka hati termasuk niat seseorang yaitu melihatnya dalam posisi biner atau posisi konsisten. Dan saya rasa untuk selamanya hanya waktu dan Tuhan yang mampu membuktikannya. Jadi untuk kali ini saya sepakat seperti kata maha dewi dalam salah satu bait lagunya “hati-hati menjaga hati...”.

Di era postmo, studi tentang hati ini sebenarnya menjadi isu yang jarang disentuh oleh banyak kalangan termasuk sosiolog atau psikolog yang tanpa bermaksud mendiskreditkan profesi lain punya kaitan mendalam terkait hal ini. Hal itu pula yang ingin saya bagi dalam tulisan ini bahwa salah besar jika pembicaraan tentang hati hanya milik ranah religi. Salah. Bagi sebagian orang, hati mungkin hanyalah sebuah perasaan yang hanya dapat dimainkan dalam area kognitif dan cenderung metafisik. Menurut saya itu tidak salah tapi secara lebih mendalam orang jarang memperbincangkan hati ini sebagai hulu dari sebuah kehendak. Berbagai fenomena postmo yang hadir belakangan ini, sebenarnya berhulu dari hati. Hati yang akan menuntun kehendak menuju sebuah kemashlahatan atau kesia-siaan.

Saya akan mengajak anda untuk menurunkan konsep untuk membaca lebih komprehensif dan setidaknya lebih jernih tentang Gerakan Indonesia Mengajar yang menjadi goresan baru dalam perjalanan hidup saya kedepan. Mungkin saya tidak akan menulis dan berbagi tentang ini jika beberapa hari terakhir tidak ada manusi-manusia berkamera bernama wartawan yang hadir dalam perjalanan gerakan ini. Saya sangat memaklumi jika gerakan ini menjadi isu yang sangat seksi untuk dibahas apalagi bertepatan dengan berbagai momentum yang pas: Sumpah Pemuda, generasi muda yang mulai apatis dan terdegradasi, juga dunia pendidikan Indonesia yang semakin terbelakang. Saya tidak tahu apakah ini merupakan reaksi kaget saya atas banyaknya liputan media yang berefek pada respon publik atau sebuah titik pencerahan saya untuk merespon secara jernih apa yang terjadi belakangan ini pada para pengajar muda yang sudah mirip selebritis dadakan. Berharap keduanya.

Niat untuk berbagi tentang hal ini sebenarnya muncul seketika setelah saya menghadiri undangan makan siang dari keluarga salah satu sahabat saya yang juga pengajar muda. Sambil menikmati chiken kari noodle versi oenpao yang menurut saya merupakan saudara batih dari mie ayam, saya berdiskusi dengan ayah sahabat saya. Sebenarnya obrolan tentang euforia pengajar muda di media muncul dari pasport. Jujur di tim Bengkalis, pasport saat ini menjadi isu yang cukup kuat sebelum deployment. Anda semua pasti sudah bisa menebak apa yang menjadi alasannya. Bentuk dari pemikiran visioner lebih tepatnya.

Ayah dari sahabat saya mulai membuka obrolan tersebut dengan menyuguhkan kami beberapa fakta bahwa, gerakan Indonesia Mengajar saat ini sedang gencar menjadi buah bibir di masyarakat baik dari kalangan borjuis maupun proletar. Saya masih ingat kalimat beliau terkait hal ini “...jangan kalian kira banyak yang memuji gerakan ini, tidak sedikit yang sinis dan memandang negatif...”. saya yang saat itu sedang kepanasan menyruput mi langsung terhenti. Chiken kari noodle nampaknya tidak menarik lagi. Beliau meneruskan respon negatif tersebut datang dari berbagai kalangan baik tentang masa ajar yang hanya satu tahun, gaji pengajar muda, anggapan bahwa program ini hanya sebuah batu loncatan, hingga Anies Baswedan yang terkesan “bodoh” dalam membuat statement di media. Seketika itu saya menelan ludah karena ice orange juice yang satu jam lalu saya pesan belum juga datang.

Beliau menyatakan bahwa statement Anies tentang penyebutan rata-rata angka nominal gaji pengajar muda di salah satu media secara tidak langsung menjatuhkan derajad dan martabat gerakan ini termasuk pengajar muda. Hal ini bisa dibilang serius, mengingat gerakan ini dibangun atas dasar pengabdian jadi tidak pantas jika sampai angka nominal terucap. Inspirasi yang menjadi sumber kekuatan dari gerakan ini jadi terkesan dikesampingkan. Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengarkan sekaligus meratapi jika memang fakta itu benar adanya. Hal itu juga berlaku untuk statement bahwa paska program ini akan banyak akses kemudahan yang didapat pengajar muda baik pekerjaan maupun beasiswa juga sempat dipermasalahkan. Sebelum kami pamit, beliau sempat berpesan bahwa hal ini perlu disampaikan baik kepada panitia Indonesia Mengajar maupun pengajar muda sendiri guna perbaikan kedepan. Lawan segala keraguan masyarakat atas gerakan ini dengan bukti bukan janji.

Dalam perjalanan pulang saya mulai berpikir bahwa ternyata tidak selamanya niat tulus itu dapat diterima dengan mudah. Tergantung dari sisi mana kita akan melihat. Jika dilihat dari dual track yang menjadi poros dari program ini, pemberitaan tersebut merupakan hal yang wajar karena merupakan salah satu alat. Tetapi jika dilihat dari sisi komersial, hal ini tentu berbeda. Saya yakin tidak ada maksud dari seorang Anies Baswedan untuk membuat program ini menjadi ajang popularitas. Saya juga tidak akan menyalahkan media atas berita berlebihan yang mereka tulis dan tayangkan selama ini. Apalagi untuk menyalahkan masyarakat yang saya pikir belum secara mendalam mendapat sosialisasi atas geraka Indonesia Mengajar ini. Terlepas dari hal itu, saya menyimpulkan sebuah hipotesa bahwa kritik sebenarnya adalah bentuk kepedulian dan rasa cinta seseorang atas kehendak orang lain. Kembali lagi semua tergantung dari respon personal tentang kejujuran pada hati mereka. Apakah terperangkap dalam posisi biner atau bertahan dalam posisi yang konsisten? Berharap yang kedua. Bahwa semua dilakukan untuk menebar inspirasi, memperbesar turbulensi kebaikan, hingga perjuangan untuk sebuah kemashlahatan. Dan itu semua bukan hal yang mudah. Hati orang siapa yang tahu.

SOMBONG DAN TAWADHU'

Sifat sombong adalah sesuatu yang sangat tercela. Karena Al Qur’an dan As Sunah mencelanya dan mengajak kita untuk meninggalkannya. Bahkan orang yang mempunyai sifat ini diancam tidak masuk ke dalam surga. Sebaliknya, di dalam Al Qur’an Allah memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati dan tawadhu’ kepada sesama. Allah ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Celaan Terhadap Kesombongan dan Pelakunya

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Allah ta’ala juga berfirman,

تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا

“Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak berambisi untuk menyombongkan diri di atas muka bumi dan menebarkan kerusakan.” (QS. Al Qashash: 83)

Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, sungguh ini tergolong kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah (anak semut), la haula wa la quwwata illa billah.” (lihat Al Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 75-76 cet. Darul Kutub ‘Ilmiyah. Sayangnya di dalam kitab ini saya menemukan kesalahan cetak, seperti ketika menyebutkan ayat dalam surat An Nahl di atas, di sana tertulis An Nahl ayat 27 padahal yang benar ayat 23. Wallahul muwaffiq)

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.”

Beliau melanjutkan, “Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya. Dan setiap kali bertambah amalnya maka bertambahlah keangkuhannya, dia semakin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya maka bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya maka dia semakin pelit dan tidak mau membantu sesama. Dan setiap kali meningkat kedudukan dan derajatnya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakan dirinya. Ini semua adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga akan berbahagialah sebagian kelompok, dan sebagian kelompok yang lain akan binasa. Begitu pula halnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang ada seperti kekuasaan, pemerintahan, dan harta benda. Allah ta’ala meceritakan ucapan Sulaiman tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah berada di sisinya,

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml: 40).”

Kembali beliau memaparkan, “Maka pada hakikatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang menimpanya. Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلَّا

“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’ Sekali-kali bukanlah demikian…” (QS. Al Fajr : 15-17)

Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezekinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.” (Al Fawa’id, hal. 149)

Ketawadhu’an ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu’anhu

Disebutkan di dalam Al Mudawwanah Al Kubra, “Ibnul Qasim mengatakan, Aku pernah mendengar Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh umat manusia dikumpulkan. Di dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di antara manusia yang lain. Dia mengatakan: Kemudian aku berkata di dalam mimpiku, ‘Karena faktor apakah Umar bin Al Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?” Dia berkata: Lantas ada yang berujar kepadaku, ‘Dengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.’ Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua. Ketika dia selesai bercerita maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya, “Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi orang tidur!” Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu. Kemudian Umar berkata kepadanya, “Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.” Lelaki itu menjawab, “Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?!” Umar mengatakan, “Tidakkah kamu merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu dia sedang duduk di tempat itu?!” Syaikh Abdul Aziz As Sadhan mengatakan, “Umar radhiyallahu ‘anhu tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu Ash Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu jelas lebih utama dari beliau- hadir mendengarkan kisah itu. walaupun sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu ‘anhu.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 103-104)

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

ARTI PENDIDIKAN

Ada yang berpendapat bahwa pendidikan itu perlu dan ada juga yang berpendapat bahwa pendidikan itu tidak perlu. Menurut saya ini semua tergantung dari faktor luar. Sebenarnya pendidikan itu sangat penting bagi kehidupan kita tapi sayangnya ilmu yang di dapat untuk memperoleh pendidikan itu tidak setimpal dengan uang yang dikeluarkan. Sebagai contoh ada orang yang yang telah menghabiskan puluhan juta bahkan ratusan juta untuk memperoleh pendidikan hingga S3 (sayangnya gak ada S4 ya) tapi tidak mendapatkan ilmunya. Ini bisa saja terjadi karena guru ataupun dosen yang mengajarkannya tidak memberikan ilmunya kepada murid /mahasiswanya, dikelas guru/mahasisswa hanya mengajarkan materinya sepintas bahkan ada guru/dosennyang tidak bisa mengajar sehingga anak didiknya tidak mendapatkan apa-apa. Bayangkan saja sudah menghabiskan banyak uang tapi hanya mendapatkan gelar tanpa ilmu. Beda kasus lagi, ada orang yang bisa dibilang tidak sampai menghabiskan uang banyak untuk mendapatkan “pendidikan”, dia hanya memperoleh gelar S1 tapi bisa dibilang memiliki ilmu yang banyak bahkan bisa dikatakan lebih pintar dari yang bergelar S3. Bagaimana caranya??? Orang ini mendapatkan ilmu bukan dari institusi formal melainkan dengan mengikuti kursus dan belajar sendiri karena pada dasarnya pelajaran yang diberikan di kampus itu hanya sebatas teori dan sedikit praktek dan jika kita hanya menerima itu saja maka ilmu kita tidak akan sampai, untuk itu perlu mengikuti kursus (bagi yang perlu) dan belajar sendiri.

Yang membuat saya aneh adalah adanya peraturan di pemerintahan kita mengenai pendidikan ini, misalnya sekarang ini pemerintah sedang gempar-gemparnya menyekolahkan PNS nya sampai ke S2 dan S3. Ya mungkin saja tujuan dari pemerintah ini bagus yaitu mencerdaskan kehidupan anak bangsa tapi apakah ini perlu??? Apakah PNS nya ini bisa mengikuti pelajaran S2 dan S3 yang diikutinya??? Atau apakah kuliah S2 dan S3 nya hanya formalitas untuk menaikkan jabatanya tanpa mendapatkan “ilmu”??? Dari yang saya perhatikan banyak PNS yang kuliah lagi S2 dan S3 hanya untuk menaikkan jabatannya dan memilih S2 dan S3 yang mudah, yang penting lulus dan yang lebih parah lagi tidak mendapatkan ilmunya padahal mereka disekolahkan dengan biaya negara alias gratis tapi sayangnya mereka tidak memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan ilmunya, kalaupun ada yang niatnya tulus untuk mendapatkan ilmu, kembali lagi ke faktor kampus yaitu adanya dosen yang “pelit”memberikan ilmunya. Saya mengatakan pelit karena proses belajar mengajar di kelas berjalan sangat alot dan dosen yang memberikan materi hanya men-next materi yang ada tanpa peduli mahasiswanya mengerti atau tidak, tapi tidak semua dosen seperti ini, ada juga dosen/pengajar yang benar-benar mengajar anak didiknya sampai bisa. Dosen seperti inilah yang bagus karena menurut saya seorang pengajar dikatakan sebagai pengajar yang berhasil saat dia bisa mengajarkan anak didiknya. Lain cerita kalau anak didiknya malas, cuek dan sebagainya sehingga ilmu yang diberikan tidak sampai.

Menurut saya, sebagai seorang anak didik kita seharusnya belajar dengan tekun untuk mendapatkan ilmu dan sebagai seorang dosen atau pengajar sudah seharusnya benar-benar mengajarkan anak didiknya dan bukan hanya memberikan materi teori yang bisa dipelajari sendiri. Jadi kesimpulan saya mengenai pendidikan adalah pendidikan itu SANGAT penting bagi kita karena selain dengan menaikkan status kita, dengan pendidikan juga akan ada banyak hal yang bisa kita lakukan dan yang lebih bagus lagi adalah membagi ilmu yang kita miliki kepada orang lain. Dalam agama islam pun diaharkan untuk menimba ilmu sampai ke alam kubur dan di dalam Al – Qur’an disebutkan bahwa orang yang memiliki ilmu akan dinaikkan derajatnya, pepatah lain mengatakan capailah ilmu sampai negeri Cina. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menuntut ilmu setinggi-tingginya apalagi di jaman yang semakin kompetitif ini tapi ingat juga ilmu bisa didapatkan dimana saja.

ARTI KESEDERHANAAN

Kehidupan sederhana merupakan bagian dari kebahagiaan” (HR. Ahmad)

Meski ada jutaan dahan kayu di hutan, seekor pipit cukup memakai sebatang ranting untuk menggayutkan sarangnya. Keselamatan telur-telurnya lebih berarti dibanding seberapa banyak ranting yang bisa dikuasai. Seekor zebra hanya meneguk air kubangan secukupnya meski panas terik membakar. Inilah alam mengajarkan kesederhanaan. Bersikap sesuai dengan keperluan dan kemampuan, tak melebihkan dan tak menguranginya. Menjaga batas kewajaran agar melodi hidup dapat berjalan seirama.

Kesederhanaan adalah kekuatan di balik orang-orang hebat. Tokoh besar dunia, seperti Rasulullah, Budha, Mahatma Gandhi dan lainnya, memberi keteladan itu. Keinginan mereka selalu terkontrol dalam batas keperluan. Mereka tidak mau membebani hidup dengan hal-hal yang remeh, kegiatan yang tidak bernilai. Mereka menempatkan nilai hidup di atas materi. Tulus menerima dan mensyukuri segala yang dianugerahkan, hidup terasa berkecukupan dan bersahaja. Di Negara mana pun orang bersahaja lebih dihormati dan disegani.

Rasulullah saw. seorang pemimpin yang sederhana. Rumah dan perabotan beliau sederhana. Pakaian beliau tidak lebih bagus dari yang lain. Beliau bergaul dengan siapa pun, kaya maupun miskin. Pola pikir beliau juga tidak berbelit-belit, Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah memilih antara dua perkara melainkan akan memilih yang paling mudah antara keduanya selama perkara itu tidak mendatangkan dosa. Jika mendatangkan dosa, baginda adalah orang yang paling menjauhinya” (HR. Muslim). Beliau makan juga tidak melebihi batas kenyangnya perut. Aisyah menuturkan, keluarga Muhammad tidak ada yang pernah kenyang dari roti gandum dua hari berturut-turut sampai meninggal (HR. Bukhari).

Kesederhanaan dapat mengubah suasana sosial semakin harmonis, terhindar dari kesenjangan yang dapat mengusik ketentraman hidup bersama. Kesederhanaan akan membuka sekat diri merasa lebih berharga. Dan menggantinya dengan ketawadhuan, kesadaran akan keterbatasan diri, begitu pula rekan-rekan kita. Maka saling melengkapi lebih penting dari pada menonjolkan diri. Inilah refleksi keimanan, Rasul bersabda, “Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman” (HR. Abu Dawud).

Kesederhanaan berarti melepaskan diri dari tuntutan dunawiyah yang menyesakkan. Dengan kata lain mengambil persoalan dari esensinya, dan menyikapinya dengan proporsional. Kesederhanaan selalu menghiasi seseorang dengan kemurahan hati dan sikap yang bijak, dan akan membawa pelakunya pada lapang dada dan menjauhkannya dari prasangka yang dapat meresahkan hidup. (Sumber : http://samudramakna.wordpress.com/2007/10/29/arti-kesederhanaan/).